Sabtu, 31 Maret 2018

Katalog Harga Kelas Craft

Daur Ulang Botol Plastik


Gantungan Kunci
Alat: Gunting dan Jarum
Bahan: Ring Gantungan Kunci, Gantungan Kunci, dan Cat Akrilik/Cat Semprot
Biaya Bahan: Rp. 5.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Gelang
Alat: Gunting, dan Lem Lilin
Bahan: Pita/Kain Perca
Biaya  Bahan: Rp. 5.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Gantungan Kunci
Alat: Gunting, Jarum, Lem Lilin, dan Awl
Bahan: Benang Jahit, Awl, Gantungan Kunci, Kain Felt/Flannel/Kain Perca, Kain Blacu
Biaya Bahan: Rp. 5.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Daur Ulang Botol Kaca


Table Sign
Alat: Gunting, Jarum, dan Lem Lilin
Bahan: Benang Jahit, Kain Perca, Kain Felt/Flannel, Karton Bekas, Kertas Kado
Biaya Bahan: Rp. 10.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Daur Ulang Kain Perca


Jepit Rambut/Bros
Alat: Gunting, Jarum, dan Lem Lilin
Bahan: Benang Jahit, Kain Perca, Karton Bekas, Peniti Cangkang/Jepitan Rambut Polos
Biaya Bahan: Rp. 10.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Kalung
Alat: Gunting, Jarum, dan Lem Lilin
Bahan: Benang Jahit, Kain Perca, Karton Bekas, Tali Kalung
Biaya Bahan: Rp. 10.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Daur Ulang Majalah Bekas


Pocketbook
Alat: Gunting, Jarum Sulam, Awl, dan Cutter
Bahan: Benang Nilon/Tali Kulit Sintetis Kecil, Lem Putih, dan Kertas HVS
Biaya Bahan: Rp. 5.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Daur Ulang Undangan Bekas


Album Foto/Scrapbook
Alat: Gunting, Handpress, dan Matras Mata Itik
Bahan: Kain Perca, Lem Putih, Biji Mata Itik, dan Ring Buka Tutup
Biaya Bahan: Rp. 15.000 untuk tiap peserta
Fee Pengajar: Rp. 250.000 untuk 10 peserta


Catatan:
1. Jika peserta di bawah 10 orang, maka dikenakan biaya Rp. 50.000 per peserta (mencakup bahan dan fee pengajar; dan
2. Jika peserta di atas 10 orang, maka dikenakan biaya tambahan Rp. 25.000 per peserta (di luar biaya bahan).

Kamis, 01 Maret 2018

Ada Kelas Baru?

Penyakit yang sering menjangkit: membuat jeda yang cukup panjang untuk kembali nge-blog, sampai canggung sendiri ketika memulai kembali.

Kali ini, untuk memulai percikan semangat, tulisannya agak pendek, hanya sebuah pengumuman saja. Ada yang baru nih, dari RnC. Bukan hal yang signifikan, tapi tidak apa-apa kalau mau penasaran.

Jadi, selama ini RnC selalu menggunakan nama Recycle and Craft Day untuk semua kelas-kelas craft maupun daur ulang, bukan begitu? Karena ya memang, kalau mendaur ulang pastilah bentuk kerajinan tangan. Tapi, kadang, di tengah perjalanan, ada saja hal baru yang bermunculan. RnC mengalaminya juga, baru-baru ini. Setelah menghabiskan cukup waktu memikirkan arah dan tujuan perubahan ini, maka bulatlah sebuah keputusan. Dan sekarang, RnC akan memperkenalkan pada perubahan itu.

Perubahannya adalah, RnC punya nama baru untuk kelas craft yang tidak mendaur-ulang.


Artsy Crafty Day, kelas-kelas craft dimana tidak ada proses daur ulang di dalamnya. Iya, bukan perubahan signifikan memang, hanya menempatkan ini dan itu di tempat yang lebih sesuai saja. Juga untuk menegaskan bahwa ada dua hal dalam Recycle and Craft; recycle dan craft. Karena mendaur ulang adalah kerajinan tangan, mau tidak mau "craft" di nama RnC hanya terdengar seperti bagian dari "recycle" yang ada di depannya.

RnC senang mendaur ulang, tapi ada kalanya beberapa kelas craft yang diadakan memang tidak menyulap barang bekas supaya bisa digunakan kembali. Di beberapa kelas, RnC sepenuhnya menggunakan bahan-bahan yang baru, dan kadang, alat yang baru. Untuk itu, jika menggunakan Recycle and Craft Day untuk semua kelas craft RnC, rasanya agak janggal ketika kelasnya sama sekali tidak mendaur ulang. RnC tidak suka yang janggal, hanya suka angka ganjil supaya bisa menggenapkan. Artsy Crafty Day ini, bukan ingin mengurangi porsi kelas daur ulang apalagi mengkhianati jati diri, itu tidak terjangkau dan RnC lebih suka segala hal yang bisa digapai.

Tulisan ini sudah mulai kemana-mana, catatan untuk diri sendiri: canggung nge-blog tidak boleh jadi kebiasaan.

Sepertinya itu dulu, notifikasi dari RnC. Jadi kalau lihat hastag baru di postingan sosial media RnC, #ArtsyCraftyDay, you guys know what's going on. Everything else stays the same, at least for now. But we won't leave you behind if there's any changes to tell.



Peluk Hangat,
Recycle and Craft.

Minggu, 28 Mei 2017

Zero Waste Life

Pernah dengar Zero Waste? Ini adalah adik bungsu Handmade dan Recycle, Reduce, and Reuse. Lahir dari ayah Do It Yourself dan Ibu Handicraft, ketiga saudara ini hidup dengan menjalankan petuah orang tua mereka untuk tidak pernah mengkhianati nilai-nilai keluarga; melakukan dan mengolah segalanya sendiri.
Gambar diambil di sini.
Zero Waste sendiri, sebagai anggota keluarga yang paling muda, lahir di zaman ketika Ayah, Ibu, dan kakak-kakaknya sudah begitu mapan sebagai sebuah gaya hidup. Seperti banyaknya anak-anak yang lahir dengan melihat contoh generasi sebelumnya, tidak hanya satu tapi beberapa generasi, mereka selalu belajar sesuatu dari bentuk kemapanan yang lahir sebelum mereka.

Dengan jiwa muda dan hasrat pembaharuan, Zero Waste tumbuh besar dengan ide yang berkembang dari apa yang telah diperjuangkan anggota keluarganya. Berbeda dengan Kakak Sulungnya, Handmade, yang menolak gaya hidup industri besar yang kadang mempekerjakan anak-anak di bawah umur atau menggaji karyawannya dengan tidak adil atas porsi dan jam kerja, atau si anak tengah yang selalu berusaha memperpanjang fungsi dari sesuatu dengan mendaur ulang dan memanfaatkan kembali, Zero Waste mengambil langkah yang lebih ekstrem: mengontrol sepenuhnya kesadaran akan sampah yang dihasilkan. Menekan jumlah sampah hingga di titik terendah: zero!

Bagaimana melakukan Zero Waste Life ini?

RnC menemukan video yang diunggah TED Talk di Youtube. Perbincangan mengenai Zero Waste Life yang dibawakan Lauren Singer, Penulis di Blog Trash is for Tossers, yang menjadi awal pengenalan RnC terhadap Zero Waste Lifestyle. RnC mengutip langkah-langkah yang dijabarkan Lauren ketika dia memulai petualangannya bersama Zero Waste. Untuk mengerti sesuatu, ada baiknya mencoba memahami bagaimana cara ia bekerja. Dan di video ini, Lauren menjelaskan dengan sangat rapi mengenai langkah-langkah yang dia lakukan untuk menghasilkan sampah hanya dalam satu stoples kecil.

Apa saja cara-cara itu?
  • Berhenti membeli makanan berkemasan.
Lauren menjelaskan, ini tahapan pertama semenjak memutuskan untuk menjalankan gaya hidup si anak Bungsu Ibu Handicraft, adalah membawa wadah atau stoplesnya sendiri setiap kali dia ingin berbelanja. Dia juga berhenti berbelanja di supermarket, karena iya, semua yang dibeli di sana harus menggunakan pembungkus. Sebagai gantinya, dia berbelanja di pasar tradisional dengan tentu saja menyimpan semua belanjaannya di tas belanja yang dia bawa dari rumah. Jiwa sang Ayah agak kental di sini dengan sedikit perubahan: Bring It Yourself (it dibaca: kantung belanjaan).
  • Membuat produk sendiri.
Ini mungkin agak sedikit sulit dibandingkan memilih mengganti tempat berbelanja sayuran. Lauren bercerita, ketika produk-produk kecantikan dan kebersihan yang dia gunakan mulai habis, dia segera mencari cara bagaimana membuat produk yang dia butuhkan. Ini dilakukannya secara bertahap sampai akhirnya semua yang dia gunakan adalah produk yang dia buat sendiri. Kakak Sulung sepertinya sangat berpengaruh di tahap ini: handmade is how it made.

Oh, masker dari buah-buahan, sayuran, dan rempah-rempah bisa jadi langkah awal!
  • Membeli barang-barang bekas.
Berhenti membelanjakan uang di toko-toko berlampu-lampu mengkilap dengan manekin yang memajang garmen tercantik di sana. Lauren berpendapat, bahwa dengan berhenti membeli barang-barang baru, artinya dia tidak sedang menciptakan calon-calon sampah baru. Kakak kedua, Recycle and Reuse mengambil bagian dari perluasan ide ini bagi Zero Waste.
  • Membuang yang tidak diperlukan.
"I focus on having only the things truly necessary that I really needed”. Menurut pengakuan Lauren, ini adalah proses yang sulit, karena dia memiliki ikatan emosional dengan barang-barang yang dia miliki. Duh, barang-barang berharga hadiah wisuda dari teman teman, dan hadiah hari jadi dari kekasih hati, sepertinya kita bisa paham keterikatan secara emosional pada barang-barang seperti yang dirasakan Lauren. Tapi dia mengaku, setelah selesai di tahap ini, dia merasa jauh lebih menghargai apa yang dia miliki. Ini mirip dengan si Minimalist, gaya hidup ala Zen, sepupu satu kali Zero Waste.
Itu adalah cara-cara yang dilakukan oleh Lauren Singer, bukan cara satu-satunya tapi menurut RnC sebagai langkah awal untuk mencoba sudah cukup membantu.

Mungkin secara keseluruhan, Zero Waste memang terdengar seperti pilihan yang ekstrem. Tapi dengan adanya adaptasi-adaptasi yang dilakukan dengan melonggarkan beberapa bagian tertentu seperti pilihan yang ditawarkan Lauren sendiri, ketika dia membuka peluang bagi orang-orang yang tertarik untuk menjalani gaya hidup yang sama, namun terkendala di masalah mereka tidak punya cukup waktu untuk membuat produk mereka sendiri, dengan menjual produk buatannya dalam memenuhi tahap kedua di perjalanannya memulai Zero Waste Life, ke-ekstrem-an Zero Waste mungkin hanya butuh penyesuaian-penyesuaian. Ekstrem tidak selalu berarti tidak mungkin.

Begitulah cara Zero Waste menjalankan hidupnya. Banyak mendapat pengaruh dari Ayah dan Ibu, juga kakak-kakaknya membuat dia mampu menghadirkan sebuah pilihan lain. Sebuah pilihan yang tidak hanya butuh niat tapi juga tekad mengingat satu barang bisa dibungkus dua lapis: kemasannya lalu kantung plastik supaya mudah dibawa pulang, yang kalau dihitung setelah jadi sampah tidak akan cukup semua jari kaki dan tangan, kanan dan kiri semua orang didunia dijadikan alat hitungnya.

Jiwa Zero Waste bisa jadi seperti yang diungkapkan di sebuah video TED Talk dengan topik serupa yang dibawakan oleh Bea Johnson, mengatakan, “Zero Waste is not recycling more, but recycling less”.

RnC tetap percaya bahwa Recycling masih mampu menjadi solusi atas siklus sampah yang tidak sehat bagi lingkungan. Tujuan RnC pun masih sama: menyelamatkan bumi bukan hanya dengan mengulang-ulang slogan, tapi melakukan tindakan. Dengan Zero Waste, Recycle, Reduce, and Reuse, atau Handmade, bahkan Minimalist sekalipun, ketika tujuannya adalah menjaga lingkungan, berarti kita memperjuangkan hal yang sama.

Dimanapun kalian berada.


Peluk Hangat,
Recycle and Craft